Logo SantriDigital

hikmah sholat

Ceramah
M
Muhammad Al Basith Rasya
29 April 2026 5 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا. (النساء: 103) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Hadirin sekalian, para pemuda, calon pemimpin masa depan, yang insya Allah senantiasa dalam limpahan rahmat Allah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sungguh, sebuah kehormatan dan anugerah yang luar biasa, bisa berdiri di hadapan antum semua pada kesempatan yang berbahagia ini. Saya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah mempertemukan kita dalam majelis ilmu yang mulia ini. Dan kepada antum sekalian, para pemuda yang kucintai karena Allah, saya ucapkan terima kasih yang tiada terhingga atas kehadiran antum. Semoga kehadiran kita dicatat sebagai amal kebaikan di sisi-Nya. Malam ini, mari kita bersama-sama merenungi sebuah tema yang begitu sentral dalam kehidupan seorang Muslim, tema yang sejatinya adalah jembatan terindah menuju Sang Pencipta: *Hikmah Sholat*. Terutama bagi kita para pemuda, yang saat ini sedang berada di puncak usia, di mana semangat berkobar, namun tantangan dunia juga kian menggoda. Seringkali kita merasa sholat itu hanya sekedar gudulain, rutinitas yang harus dijalani. Namun, pernahkah kita terdiam sejenak, memikirkan kedalaman makna di setiap gerakan dan bacaan yang kita ucapkan? Saudaraku, sholat itu bukan sekedar kewajiban semata. Ia adalah magnet ilahi yang menarik kita mendekat kepada Allah. Ia adalah alarm spiritual yang mengingatkan kita dari kelalaian. Pernahkah antum merasa gelisah? Hati resah? Beban hidup terasa begitu berat? Coba renungkan, kapan terakhir kali antum benar-benar khusyuk dalam sholat? Kapan terakhir kali antum merasakan ketenangan hakiki saat sujud? Allah berfirman dalam Al-Qur'anul Karim, surah Al-Baqarah ayat 45: وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ "Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." Ayat ini sangat jelas, saudaraku. Shalat adalah sarana pertolongan dari Allah. Saat dunia terasa begitu kejam, saat masalah seolah tak ada ujungnya, tempat terbaik untuk mengadu, untuk mencurahkan segala resah gelisah adalah di hadapan Allah, dalam sholat kita. Bayangkan, saat antum sujud, kepala antum yang mulia merunduk ke bumi, di sanalah antum paling dekat dengan Allah. Apakah pantas kita menyia-nyiakan momen berharga itu dengan pikiran yang melalang buana? Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sesungguhnya di antara amal perbuatan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menyusulnya setelah kematiannya ada ilmu yang diajarkannya, atau anak saleh yang ditinggalkannya, atau mushaf yang diwariskannya, atau masjid yang dibangunnya, atau rumah yang dibangunnya dalam perjalanan, atau sedekah yang dikeluarkannya dalam keadaan sehat dan lapang, atau puasa yang ditahannutnya (dilakukannya pada bulan Ramadhan). Sesungguhnya di antara yang menyusulnya adalah amal saleh dan pahala yang ditambahi padanya setelah kematiannya." Termasuk dalam amal saleh yang terus mengalir pahalanya adalah sholat yang kita dirikan dengan ikhlas, yang menjadi inspirasi bagi orang lain. Namun, sebaliknya, bagaimana jika sholat kita justru menjadi sumber penyesalan kelak? Pernahkah antum melihat di akhirat nanti, ada orang yang menangis meraung-raung, menyesali sholatnya yang lalai? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: "Amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka dia akan beruntung dan berhasil. Jika shalatnya rusak, maka dia akan kecewa dan merugi." (HR. Bukhari) Betapa mengerikannya, jika sholat kita dinilai rusak di hadapan Allah. Kerugian yang tidak terhingga. Terutama bagi kita para pemuda. Usia mudalah saat terbaik untuk membentuk karakter, untuk menanamkan kebiasaan baik. Jangan sampai penyesalan itu datang saat usia senja, atau bahkan saat ajal menjemput. Jangan sampai kita menjadi seperti orang yang dikisahkan dalam Al-Qur'an surah Al-Mu'minun ayat 99-100: رَبِّ ارْجِعُوْنِ لَعَلِّيْٓ أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۗكَلَّا ۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah perkataan yang akan diucapkannya. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." Mereka ingin kembali untuk memperbaiki sholatnya, untuk memperbaiki amal-amalnya. Tapi apa daya, dinding barzakh telah membatasi. Saudaraku, mari kita tatap kembali sholat kita. Bukan hanya gerakan ruku' dan sujud, namun kedalaman hati yang menyertainya. Sholat adalah komunikasi langsung dengan Allah. Saat kita rukuk, kita merendahkan diri di hadapan kebesaran-Nya. Saat kita sujud, kita menundukkan kepala pada kekuasaan-Nya. Adakah kebanggaan duniawi yang lebih berharga dari ketundukan total pada Sang Pencipta? Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka dia dalam keadaan bertamu kepada Allah. Dan menjadi hak bagi orang yang bertamu untuk memuliakan tamunya." (HR. Ath-Thabrani) Sholat di masjid, apalagi berjamaah, adalah bentuk kita memenuhi undangan Allah. Maka, pantaskah kita datang kepada-Nya dengan hati yang lalai, dengan pikiran yang jauh? Mari, setiap kali takbiratul ihram, hadirkan rasa haru, rasa cinta, rasa takut dan harap yang menjadi satu. Ingatlah bahwa kita diperhatikan oleh Allah, bahwa Arsy-Nya bergetar karena ketaatan kita. Para pemuda, masa depan ada di tangan antum. Keberkahan hidup, ketenangan jiwa, kemuliaan di dunia dan akhirat, semuanya berawal dari kualitas sholat kita. Jangan biarkan setan merayumu untuk menunda atau meremehkan sholat. Ingatlah selalu, sholat adalah tiang agama. Jika tiang itu roboh, bagaimana dengan bangunan agama di dalam hati kita? Nisbah (perbandingan) yang luar biasa, barang siapa yang mendirikan sholat di awal waktu diringankan urusannya, dan barang siapa yang mengundurnya, maka beratlah urusannya. Kita sebagai generasi muda, harusnya mampu berlomba-lomba dalam kebaikan, termasuk dalam mendirikan sholat tepat waktu. Marilah kita renungkan, setiap detik waktu sholat adalah kesempatan emas. Kesempatan untuk membersihkan hati dari dosa, kesempatan untuk mendekatkan diri pada Allah, kesempatan untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Jangan lewatkan kesempatan ini dengan sia-sia. Jadikan sholat sebagai sumber kekuatan, sebagai penyejuk mata, sebagai pelipur lara. Mari kita perbaiki sholat kita, maka insya Allah, Allah akan memperbaiki seluruh kehidupan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan sholat kita sebagai wasilah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah kata dan khilaf dalam penyampaian. Terima kasih atas perhatian antum. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →